Showing posts with label pencernaan. Show all posts
Showing posts with label pencernaan. Show all posts

Monday, 11 February 2019

Jika Anda Sering Mengunyah Permen Karet Ini Jenis Bahayanya


Anda yang menggemari permen karet, tentu sering mengunyah camilan ini kapan saja dan di mana saja. Bahkan jika tak ketemu permen karet, Anda bisa jadi kurang semangat. Ada beberapa faktor yang membuat orang senang mengunyah permen karet. Mulai dari suka rasanya, untuk menjaga kesegaran mulut, hingga untuk mengalihkan perhatian (misalnya dari merokok atau ngemil).

Meski terkesan sepele namun sering mengunyah permen karet ada efeknya bagi kesehatan, lo. Berikut 6 dampak kesehatan yang bisa Anda alami dari kebiasaan mengunyah permen karet.

Nyeri rahang

Gerakan mengunyah permen karet yang Anda lakukan melibatkan rahang serta otot wajah. Jika Anda memiliki kebiasaan mengunyah permen karet terus-menerus, bukan tak mungkin hal tersebut dapat menimbulkan nyeri pada rahang. Kondisi ini dikenal dengan temporomandibular joint disorder (TMD), yaitu nyeri pada rahang yang berhubungan dengan otot yang digunakan untuk mengunyah.

Tak hanya menyebabkan nyeri saat mengunyah, TMD juga dapat memicu keluhan lainnya, seperti nyeri telinga, nyeri gigi, bahkan sakit kepala akibat kontraksi otot rahang, kepala, dan leher.

Perkembangan tak normal pada otot wajah

Gerakan mengunyah terus-menerus juga dapat menstimulasi tulang rahang serta otot yang digunakan untuk mengunyah. Jika kebiasaan ini muncul sejak masa anak-anak atau remaja (ketika masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan), maka berpotensi menimbulkan perkembangan tidak normal pada otot wajah. Contohnya: wajah yang tampak besar, atau bahkan besar sebelah sisi jika Anda terbiasa mengunyah pada sisi tertentu.

Masalah pencernaan

Saat Anda mengunyah, tubuh akan mengirimkan sinyal ke saluran pencernaan untuk mempersiapkan diri akan datangnya makanan yang perlu dicerna. Misalnya, untuk meningkatkan produksi asam lambung dan enzim pencernaan lainnya.

Namun, jika Anda mengunyah permen karet, hal tersebut tetap akan terjadi walaupun tidak ada makanan yang ditelan dan dicerna. Akibatnya, Anda bisa mengalami keluhan pencernaan. Selain itu, bisa jadi saat Anda akhirnya makan, tubuh Anda malah tidak dapat memproduksi cukup enzim pencernaan.

Tak hanya itu saja masalah pencernaannya. Sembari mengunyah, secara tidak sadar mungkin Anda akan menelan udara. Alhasil Anda bisa merasa kembung serta banyak buang gas. Selain itu, pemanis buatan (misalnya sorbitol, mannitol, atau xylitol) dalam permen karet dapat menimbulkan efek laksatif, sehingga menyebabkan diare pada beberapa orang.

Alergi, iritasi, dan sakit kepala

Pemanis buatan dalam permen karet, terutama aspartame dan sorbitol, dapat menimbulkan reaksi alergi pada beberapa orang. Selain itu, pemanis buatan juga dapat menimbukan reaksi iritasi serta sakit kepala.

Merusak gigi dan mulut

Permen karet dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut Anda. Khususnya permen karet yang mengandung gula, karena dapat menyebabkan kerusakan gigi serta gigi berlubang. Hal ini disebabkan gula yang menyelimuti gigi dapat merusak enamel gigi secara perlahan, apabila tidak segera disikat.

Tak berminat dengan sayur dan buah

Kebiasaan mengunyah permen karet, terutama yang memiliki rasa mint, memang memberikan rasa segar pada mulut. Namun, kebiasaan ini ternyata dapat memengaruhi pola makan Anda tanpa disadari. Rasa mint dapat membuat buah dan sayur terasa pahit.

Akibatnya, kebiasaan mengunyah permen karet rasa mint bisa menyebabkan Anda tidak berminat dengan makanan sehat seperti buah dan sayur, serta meningkatkan kemungkinan Anda mengonsumsi junk food.

Jika Anda sering mengunyah permen karet, ada baiknya untuk mengurangi frekuensinya. Tak menutup kemungkinan Anda malah rugi akibat kebiasaan tersebut. Di sisi lain, tidak terlalu sering dan tidak berlebihan mengunyah permen karet bisa menguntungkan Anda. Di samping memberikan rasa segar pada mulut, permen karet dapat mengurangi bau mulut setelah mengonsumsi masakan tertentu, atau mengalihkan perhatian Anda dari kebiasaan buruk seperti merokok.

Friday, 14 September 2018

Jangan Menahan Kentut Jika Tak Ingin Mengalami Ini


Kentut atau buang angin adalah mekanisme tubuh yang normal. Kondisi ini terjadi ketika gas dari saluran pencernaan berhasil ke luar melalui lubang dubur. Pada orang sehat usia 21–59, sebuah studi mengatakan bahwa mereka bisa kentut hingga 10 kali per hari.

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, buang angin dikatakan normal jika jumlahnya tak melebihi 10 kali dalam sehari. Bila lebih dari itu, mungkin ada gangguan kesehatan yang sedang terjadi.

“Penyakit saluran cerna seperti gangguan pada kandung empedu bisa menyebabkan kentut berlebih. Begitu pula dengan kondisi yang bukan penyakit, seperti mengonsumsi makanan tertentu, menelan udara terlalu banyak, dan lainnya,” ungkap dr. Resthie.

Bahaya menahan kentut

Memang, kentut berlebih bisa menjadi pertanda adanya gangguan kesehatan. Namun bukan berarti Anda bisa menahan kentut agar tetap di dalam saluran pencernaan. Faktanya, menahan kentut adalah tindakan yang tidak dianjurkan dari sisi medis.

Menahan kentut dapat menyebabkan tekanan dan rasa tidak nyaman bagi tubuh. Gas yang tertahan dalam usus dapat memicu distensi abdomen, dimana gas terserap ke dalam sirkulasi dan diembuskan melalui napas Anda.

Dilansir dari Newsweek, gas dalam usus berasal dari sumber yang berbeda―seperti menelan udara atau karbon dioksida yang dihasilkan ketika asam lambung bercampur dengan bikarbonat di usus kecil, juga hasil produksi oleh bakteri yang terletak di usus besar. Sementara itu, penumpukan gas usus dengan menahan kentut dapat menyebabkan kembung hingga nyeri.

Gangguan kesehatan akibat menahan kentut

Selain kondisi di atas, menahan kentut juga dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan sebagai berikut :

Keracunan gas

Salah satu unsur pada kentut adalah metana. Jika tidak dikeluarkan dari dalam tubuh, unsur tersebut akan terus bertambah dan dapat berubah menjadi racun. Oleh karena itu, sering menahan kentut kerap dikaitkan dengan kejadian keracunan.

Terkait keracunan gas akibat sering menahan kentut, para ahli masih memperdebatkan hal ini. Namun tak ada salahnya untuk selalu waspada akan bahaya tersebut.

Wasir

Saat Anda menahan kentut, otot anus akan menegang dan pembuluh darah akan melebar. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, wasir tak bisa dihindari lagi.

Penderita wasir akibat terlalu sering menahan kentut akan mengalami buang air besar berdarah, gatal pada anus, nyeri saat duduk, dan berisiko tinggi mengalami anemia bila keluhan tak segera diatasi.

Infeksi divertikulosis

Sering menahan kentut membuat usus tertekan oleh sejumlah gas yang terperangkap. Pada kasus tertentu, tekanan ini dapat memicu timbulnya kantung pada dinding usus yang disebut divertikula. Kantung-kantung tersebut dapat terkena infeksi kuman dan menyebabkan divertikulosis.

Divertikulosis sering terjadi tanpa gejala yang spesifik. Namun pada beberapa pasien, kondisi ini dapat menyebabkan keluhan perut kembung, nyeri, sensitif atau kram, demam menggigil, diare dan sembelit, serta mual maupun muntah.

Peritonitis

Penyakit ini disebabkan akibat adanya peradangan pada jaringan yang melapisi dinding bagian dalam perut (peritoneum). Peritonitis merupakan salah satu komplikasi yang terjadi akibat infeksi divertikulosis kronis.

Daripada mengundang masalah kesehatan yang telah disebutkan di atas, akan lebih baik bila Anda tak lagi menahan-nahan kentut. Jika Anda sekiranya merasakan adanya dorongan gas dari saluran cerna, segera bergerak ke tempat yang membuat Anda untuk  kentut dengan leluasa.

Jika malu melakukan itu, dr. Resthie memberikan saran bahwa Anda wajib membatasi atau menghindari sama sekali makanan maupun minuman yang merangsang gas seperti kol, sawi, dan minuman bersoda. Di samping itu, Anda juga sebaiknya tidak mengonsumsi obat yang mengandung laktulosa atau sorbitol jika tak ada indikasi khusus.

“Hindari juga aktivitas yang dapat meningkatkan suplai udara ke dalam saluran cerna,” jelas dr. Resthie.

Setelah mengetahui fakta medis ini, diharapkan Anda tak lagi menahan kentut apalagi hingga berlarut-larut. Carilah tempat aman, dan segera lepaskan dorongan gas yang ada di saluran cerna Anda. Bukankah bisa kentut itu melegakan?

Tuesday, 11 September 2018

Benarkah Madu Rentan Picu Kerusakan Gigi?


Apakah Anda termasuk penggemar madu? Ya, bahan makanan alami yang satu ini memang terkenal sangat manis dan bikin ketagihan. Faktanya, madu merupakan pemanis alami yang produksinya dibantu oleh lebah dan memiliki kandungan pH yang asam.

Madu tidak memiliki masa kedaluwarsa, yang artinya akan tahan selama-lamanya asalkan disimpan dengan baik dan benar, yaitu di wadah tertutup rapat yang kering dan terhindar dari panas.

Selain rasa yang manis dan tak punya masa kedaluwarsa, madu kaya akan manfaat dan gizi yang baik untuk kesehatan. Berdasarkan penjelasan dr. Nitish Basant Adnani, kandungan hidrogen peroksida dan tingkat keasaman alami pada madu terbukti dapat mencegah proses pertumbuhan bakteri.

“Maka dari itu, madu menjadi salah satu bahan alami yang terbukti efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka maupun mengatasi keluhan di lambung. Salah satu uji klinis menunjukkan, beberapa jenis madu efektif dalam menghambat pertumbuhan puluhan jenis bakteri termasuk E. coli dan Salmonella,” ujar dr. Nitish.

Meski khasiatnya nyata, tak sedikit orang yang berpikir bahwa madu sama seperti pemanis jenis lain yang mampu memberikan dampak buruk pada kesehatan. Salah satu efek samping yang disebut ada pada madu adalah menyebabkan kerusakan gigi. Bagaimana penelitian berbicara?

Fakta tentang madu dan kerusakan gigi

Angapan yang menyebutkan bahwa madu dapat menyebabkan kerusakan gigi adalah fakta. Ini karena madu mengandung persentase yang sangat tinggi dari gula alami. Kandungan itu dapat memicu erosi asam pada gigi. Parahnya, madu juga dapat menempel di gigi dan bagian dalam mulut lebih lama, sehingga meningkatkan kemungkinan gigi rusak.

Melansir dari Livestrong, gigi Anda terdiri dari empat lapisan utama. Enamel di bagian luar gigi menawarkan permukaan pelindung yang keras untuk mengunyah dan menggigit makanan. Sementara dentin―lapisan yang lebih lembut―terletak di bawah enamel.

Lapisan atas tersebut melindungi pulpa pada bagian bawah, tempat terdapat saraf dan darah. Sementara itu, akar gigi terdapat di bagian pangkal. Kerusakan gigi mengikis setiap lapisan, sehingga bisa mencapai hingga ke akar.

Sederet peristiwa itu mampu menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit yang parah. Bakteri dalam mulut dapat menciptakan kadar asam yang menyerang gigi, terutama ketika Anda makan gula seperti yang ditemukan dalam madu.

Efek jangka panjang konsumsi madu

Perlu Anda ketahui, konsumsi madu secara berlebihan tidak hanya menyebabkan kerusakan gigi. Berdasarkan pemaparan dr. Kartika Mayasari, hal tersebut juga dapat memicu:
  • Masalah lambung, yang meliputi kram perut, kembung, dan diare. Hal ini disebabkan oleh kandungan fruktosa pada madu yang akan menyebabkan terganggunya kemampuan usus untuk menyerap nutrisi, sehingga dapat menyebabkan nyeri perut berkelanjutan.
  • Timbulnya masalah pada saluran pencernaan. Kemampuan usus untuk menyerap nutrisi juga akan mengalami gangguan secara permanen. Selain itu, yang lebih berbahaya adalah terjadinya ketidakpekaan insulin yang bisa menyebabkan jumlah gula dalam darah meningkat, hingga berujung pada diabetes melitus tipe 2.
Mengetahui bahwa madu bisa menyebabkan kerusakan gigi dan segudang masalah kesehatan lain, tak ada salahnya bagi para pecinta madu untuk membatasi konsumsi pemanis alami yang satu ini. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang dikonsumsi berlebihan sangat tidak baik bagi kesehatan. Jadi, jangan lagi konsumsi madu terlalu banyak, ya.

Benarkah Probiotik Tidak Bermanfaat untuk Kesehatan?


Sudahkah Anda mengonsumsi probiotik hari ini? Ya, probiotik adalah mikroorganisme (bakteri, jamur) hidup yang apabila diberikan dalam jumlah tertentu, dapat memberikan manfaat kesehatan bagi siapapun yang mengonsumsinya.

Tidak seluruh bakteri jahat seperti yang Anda pikirkan. Menurut dr. Nadia Octavia, probiotik adalah pengecualian karena terdiri dari bakteri baik.

“Bakteri ada yang baik dan jahat. Probiotik sering disebut dengan bakteri baik untuk kesehatan Anda, dan dapat ditemukan di dalam tubuh, seperti pada saluran pencernaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr. Nadia menjelaskan bahwa probiotik dapat membantu menyeimbangkan bakteri baik dan jahat di dalam tubuh. Jika terjadi ketidakseimbangan, maka ia dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit, terutama di saluran cerna, antara lain kolitis ulseratif, irritable bowel syndrome, penyakit celiac dan penyakit Crohn.

Selain sebagai penyeimbang, probiotik juga dapat membantu meningkatkan fungsi imun tubuh. Artinya, probiotik dapat membantu menurunkan risiko terjadinya penyakit infeksi seperti diare, infeksi kulit, dan lainnya.

Lewat penjelasan tersebut, bisa disimpulkan bahwa probiotik penting bagi tubuh. Namun dilansir dari BBC, ada juga penelitian yang menyebut bahwa bakteri baik tersebut tidak terlalu bermanfaat bagi kesehatan. Mengapa bisa demikian?

Benarkah probiotik tidak berguna bagi kesehatan?

Sekelompok peneliti di Israel mengklaim bahwa makanan yang dikemas dengan probiotik diklaim tidak berguna. Studi mereka menjadi salah satu analisis paling rinci tentang apa yang terjadi ketika Anda mengonsumsi probiotik.

Selama ini, probiotik terlihat sehat dan baik untuk usus. Namun menurut sekumpulan peneliti tersebut, probiotik memiliki manfaat yang sedikit atau bahkan tidak berdampak sama sekali buat tubuh.

Mereka menyebut bahwa cara kerja probiotik membutuhkan penyesuaian untuk kebutuhan masing-masing individu alias memiliki dampak berbeda pada setiap orang.

Tim di Weizmann Institute of Science membuat koktail probiotik sendiri yang menggunakan 11 bakteri baik umum, termasuk strain Lactobacillus dan Bifidobacteria. Makanan tersebut diberikan kepada 25 sukarelawan sehat selama sebulan.

Mereka kemudian dibius dan sampel diambil secara operasi dari beberapa tempat di perut, usus kecil dan usus besar. Para peneliti lantas mencari dan melihat, di mana bakteri berada dan bagaimana kontribusinya pada usus berdasarkan aspek kesehatan.

Hasilnya, disebutkan dalam jurnal Cell bahwa bakteri baik masuk ke mulut dan langsung keluar dari tubuh pada proses pembuangan makanan. Selebihnya, mereka bertahan sebentar sebelum dijauhi oleh mikroba yang ada.

Kendati demikian, hasil penelitian dari berbagai negara juga berbeda-beda. Sebagian besar membuktikan hal yang berlawanan.

Makanan yang mengandung probiotik

Meski disebut tak banyak memberikan manfaat bagi kesehatan, probiotik tetap menjadi pilihan dari sekian banyak asupan yang diyakini bergizi. Berdasarkan pemaparan dr. Nadia, Anda bisa mendapatkan probiotik dari makanan-makanan di bawah ini:
  • Yoghurt
Pada yoghurt, Anda bisa menemukan sejumlah probiotik seperti Streptococcus thermophilus, Lactobacillus bulgaricus, L. Acidophilus dan Bifidobacterium bifidum.
  • Tempe
Bangsa Indonesia perlu berbangga dengan makanan asli Indonesia ini. Tempe, yang terbuat dari fermentasi kedelai, mengandung sejumlah bakteri baik yang memproduksi vitamin B12.
  • Kimchi
Makanan khas negara Korea ini mengandung bakteri asam laktat Lactobacillus kimchii yang baik untuk kesehatan saluran cerna. Kimchi yang terbuat dari sayuran kol yang difermentasikan ini tinggi akan vitamin dan mineral.
  • Keju
Meski tak semua jenis keju mengandung probiotik, namun ada beberapa jenis keju seperti keju gouda, cheddar dan mozzarella mengandung bakteri baik. Selain, itu keju juga merupakan sumber protein dan kalsium yang baik untuk menjaga kesehatan tulang.
Penelitian bahwa probiotik ternyata bisa jadi tak bermanfaat bagi kesehatan agaknya masih perlu didukung oleh sejumlah studi berikutnya. Sejauh tidak ada gangguan bagi kesehatan, mengonsumsi probiotik tentu masih sangat mungkin untuk dilakukan.