Showing posts with label lambung. Show all posts
Showing posts with label lambung. Show all posts

Tuesday, 11 September 2018

Benarkah Madu Rentan Picu Kerusakan Gigi?


Apakah Anda termasuk penggemar madu? Ya, bahan makanan alami yang satu ini memang terkenal sangat manis dan bikin ketagihan. Faktanya, madu merupakan pemanis alami yang produksinya dibantu oleh lebah dan memiliki kandungan pH yang asam.

Madu tidak memiliki masa kedaluwarsa, yang artinya akan tahan selama-lamanya asalkan disimpan dengan baik dan benar, yaitu di wadah tertutup rapat yang kering dan terhindar dari panas.

Selain rasa yang manis dan tak punya masa kedaluwarsa, madu kaya akan manfaat dan gizi yang baik untuk kesehatan. Berdasarkan penjelasan dr. Nitish Basant Adnani, kandungan hidrogen peroksida dan tingkat keasaman alami pada madu terbukti dapat mencegah proses pertumbuhan bakteri.

“Maka dari itu, madu menjadi salah satu bahan alami yang terbukti efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka maupun mengatasi keluhan di lambung. Salah satu uji klinis menunjukkan, beberapa jenis madu efektif dalam menghambat pertumbuhan puluhan jenis bakteri termasuk E. coli dan Salmonella,” ujar dr. Nitish.

Meski khasiatnya nyata, tak sedikit orang yang berpikir bahwa madu sama seperti pemanis jenis lain yang mampu memberikan dampak buruk pada kesehatan. Salah satu efek samping yang disebut ada pada madu adalah menyebabkan kerusakan gigi. Bagaimana penelitian berbicara?

Fakta tentang madu dan kerusakan gigi

Angapan yang menyebutkan bahwa madu dapat menyebabkan kerusakan gigi adalah fakta. Ini karena madu mengandung persentase yang sangat tinggi dari gula alami. Kandungan itu dapat memicu erosi asam pada gigi. Parahnya, madu juga dapat menempel di gigi dan bagian dalam mulut lebih lama, sehingga meningkatkan kemungkinan gigi rusak.

Melansir dari Livestrong, gigi Anda terdiri dari empat lapisan utama. Enamel di bagian luar gigi menawarkan permukaan pelindung yang keras untuk mengunyah dan menggigit makanan. Sementara dentin―lapisan yang lebih lembut―terletak di bawah enamel.

Lapisan atas tersebut melindungi pulpa pada bagian bawah, tempat terdapat saraf dan darah. Sementara itu, akar gigi terdapat di bagian pangkal. Kerusakan gigi mengikis setiap lapisan, sehingga bisa mencapai hingga ke akar.

Sederet peristiwa itu mampu menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit yang parah. Bakteri dalam mulut dapat menciptakan kadar asam yang menyerang gigi, terutama ketika Anda makan gula seperti yang ditemukan dalam madu.

Efek jangka panjang konsumsi madu

Perlu Anda ketahui, konsumsi madu secara berlebihan tidak hanya menyebabkan kerusakan gigi. Berdasarkan pemaparan dr. Kartika Mayasari, hal tersebut juga dapat memicu:
  • Masalah lambung, yang meliputi kram perut, kembung, dan diare. Hal ini disebabkan oleh kandungan fruktosa pada madu yang akan menyebabkan terganggunya kemampuan usus untuk menyerap nutrisi, sehingga dapat menyebabkan nyeri perut berkelanjutan.
  • Timbulnya masalah pada saluran pencernaan. Kemampuan usus untuk menyerap nutrisi juga akan mengalami gangguan secara permanen. Selain itu, yang lebih berbahaya adalah terjadinya ketidakpekaan insulin yang bisa menyebabkan jumlah gula dalam darah meningkat, hingga berujung pada diabetes melitus tipe 2.
Mengetahui bahwa madu bisa menyebabkan kerusakan gigi dan segudang masalah kesehatan lain, tak ada salahnya bagi para pecinta madu untuk membatasi konsumsi pemanis alami yang satu ini. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang dikonsumsi berlebihan sangat tidak baik bagi kesehatan. Jadi, jangan lagi konsumsi madu terlalu banyak, ya.

Wednesday, 8 August 2018

Wajib Tahu Gastroparesis, Gangguan Kesehatan pada Lambung


Setiap tahunnya, bulan Agustus diperingati sebagai Gastroparesis Awareness Month, atau Bulan Kesadaran Gastroparesis. Kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gastroparesis, sebuah kondisi kesehatan yang belum banyak diketahui. Sehingga, makin banyak orang yang sadar untuk memeriksakan diri dan menanganinya dengan tepat.

Apa itu gastroparesis?

Gastroparesis merupakan kondisi yang memengaruhi pergerakan spontan dari otot yang terdapat pada lambung. Pada orang yang sehat, kontraksi otot yang kuat dapat menunjang aliran makanan melalui saluran cerna. Namun, pada orang dengan gastroparesis, kecepatan pergerakan lambung dapat mengalami penurunan atau tidak terjadi sama sekali, yang kemudian menghambat pengosongan lambung.

Beberapa tanda dan gejala gastroparesis adalah mual, muntah, merasa kenyang meski makan sedikit, memuntahkan makanan yang belum dicerna beberapa jam setelah mengonsumsinya, refluks asam lambung, rasa kembung, nyeri perut, penurunan nafsu makan, serta penurunan berat badan.

Penyebab gastroparesis belum diketahui secara pasti. Namun, pada banyak kasus, gastroparesis dipercaya terjadi akibat kerusakan pada saraf yang mengendalikan otot-otot lambung (saraf vagus). Saraf vagus membantu regulasi dari berbagai proses kompleks pada saluran cerna, termasuk memberikan sinyal pada otot perut untuk berkontraksi dan mendorong makanan ke usus halus.

Saraf vagus yang mengalami kerusakan tidak dapat mengirimkan sinyal ke otot lambung secara normal. Hal ini dapat menyebabkan makanan menjadi menetap di lambung lebih lama.

Faktor risiko & diagnosis gastroparesis

Beberapa faktor risiko yang dikaitkan dengan terjadinya gastroparesis adalah diabetes, pembedahan abdominal atau esofagus, infeksi, konsumsi pengobatan yang memperlambat pengosongan lambung, penyakit sistem persarafan, atau hormon tiroid yang rendah.

Diagnosis dari gastroparesis umumnya ditentukan berdasarkan wawancara medis yang mendetail, pemeriksaan fisik secara langsung, dan pemeriksaan penunjang tertentu bila dibutuhkan. Beberapa jenis pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:
  • Pemeriksaan pengosongan lambung. Pasien diminta mengonsumsi menu makanan yang ringan – seperti roti dan telur – yang mengandung bahan radioaktif dalam jumlah kecil. Setelah itu, diletakkan alat detektor pada perut untuk mengamati pergerakan dari zat radioaktif tersebut guna memantau kecepatan pengeluaran makanan dari lambung.
  • Endoskopi saluran cerna atas, yakni pemeriksaan yang menggunakan pipa panjang dan fleksibel dengan suatu kamera kecil di ujungnya untuk memvisualisasi saluran cerna atas. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mengevaluasi adanya penyakit ulkus peptikum atau stenosis pilorik, yang dapat menunjukkan tanda dan gejala serupa dengan gastroparesis.
  • Ultrasonografi (USG), yang menggunakan gelombang suara dengan frekuensi tinggi untuk menghasilkan pencitraan struktur organ tubuh.
  • Pemeriksaan sinar-X serial saluran cerna atas, yang melibatkan asupan cairan barium berwarna putih. Setelah itu akan dilakukan pencitraan dengan menggunakan sinar-X secara berkala.
Pengobatan gastroparesis

Penanganan gastroparesis diawali dengan mengidentifikasi dan mengatasi kondisi kesehatan yang mendasarinya. Menjaga agar nutrisi tetap memadai merupakan salah satu tujuan utama dari perawatan gastroparesis.

Pada orang dengan gastroparesis, disarankan untuk makan lebih sering dengan porsi lebih kecil, mengonsumsi sayuran dan buah-buahan yang matang, memilih makanan rendah lemak, berolahraga ringan setelah makan, menjauhi minuman bersoda, alkohol, dan merokok, serta menghindari berbaring setidaknya 2 jam setelah makan.

Selain itu, dokter juga dapat meresepkan pengobatan untuk menstimulasi otot lambung serta mengendalikan gejala seperti mual dan muntah. Pada kondisi dimana pasien tidak dapat mengonsumsi makanan atau minuman sama sekali, dokter dapat merekomendasikan prosedur pembedahan.

Gastroparesis mungkin belum terlalu familiar untuk Anda. Namun, gangguan kesehatan yang dapat terjadi pada lambung ini tetap harus diwaspadai, terutama bagi Anda yang memiliki faktor risiko.