Showing posts with label Penyakit Jantung. Show all posts
Showing posts with label Penyakit Jantung. Show all posts

Monday, 11 February 2019

Mitos tentang Vitamin Obat yang Tak Perlu Anda Percayai


Vitamin dianggap sebagai asupan penting yang diperlukan oleh tubuh guna menunjang kesehatan. Tanpa rutinitas konsumsi vitamin yang mumpuni, Anda menjadi rentan terserang penyakit karena lemahnya daya tahan tubuh. Namun, sederet mitos membuat orang menjadi salah kaprah dalam mengonsumsi vitamin.

Vitamin terdiri dari berbagai jenis dan memiliki manfaat yang berbeda-beda. Yang pasti, asupan vitamin sangat dianjurkan untuk mendapatkan tubuh yang sehat, kuat, dan tak mudah terserang penyakit.

Meski demikian, menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, untuk mendapatkan vitamin yang dibutuhkan tubuh, Anda mesti pintar dan bijak dalam memilih asupan sehari-hari.

“Vitamin dan mineral tak bisa dibuat oleh tubuh, sehingga harus dicukupi melalui asupan makanan atau suplemen vitamin. Jadi, lebih jelilah dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan vitamin tersebut,” ujar dr. Resthie.

Sayangnya, hingga kini masih banyak masyarakat yang salah kaprah dalam memandang vitamin. Tak heran jika muncul mitos tentang vitamin, yang sebenarnya tak perlu Anda percaya:

1. Vitamin C ampuh melawan flu

Pada 2013, para peneliti menganalisis lebih dari 11.000 subjek untuk sampai pada kesimpulan yang mengecewakan bahwa vitamin C tidak menangkal pilek. Meski demikian, hal ini berlaku bagi pelari maraton, pemain ski, dan tentara yang melakukan latihan fisik setiap hari.

Asupan nutrisi yang baik mungkin membantu Anda sembuh dari pilek sehari lebih cepat. Tetapi, mengonsumsi vitamin C setelah gejala flu muncul rupanya tidak menghasilkan efek meredakan flu.

2. Konsumsi vitamin dapat mencegah penyakit jantung

Pada satu titik, para peneliti berharap vitamin B, C, E, dan beta-karoten dapat mencegah penyakit jantung dengan mengurangi penumpukan plak yang menyumbat dinding arteri. Sayangnya, tidak satu pun dari harapan tersebut yang benar.

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa vitamin apa pun tidak dapat mengurangi risiko stroke atau kematian akibat penyakit jantung. Studi ini juga meneliti delapan studi beta-karoten dan menemukan bahwa, alih-alih mencegah penyakit jantung, suplemen tersebut justru meningkatkan risiko kematian.

American Heart Association merekomendasikan Anda untuk mengonsumsi makanan yang bervariasi, kaya buah, sayuran, dan biji-bijian.

3. Vitamin mampu melindungi tubuh dari kanker

Para peneliti paham bahwa molekul tidak stabil yang disebut radikal bebas dapat merusak DNA sel Anda dan meningkatkan risiko kanker. Mereka juga tahu bahwa antioksidan dapat menstabilkan radikal bebas. Jadi, mengapa tidak mengonsumsi vitamin sebagai antioksidan tambahan untuk melindungi diri Anda dari kanker?

Penelitian sejauh ini menunjukkan tidak ada manfaat dari suplemen yang mengandung vitamin untuk menangkal kanker. Sebab, sejumlah penelitian telah mencoba dan gagal menemukan manfaatnya secara langsung untuk melindungi tubuh dari penyakit kanker.

4. Vitamin B bisa bikin cepat hamil

Mitos ini sudah jelas tak benar. Sebab, asupan vitamin B sebenarnya direkomendasikan untuk ibu hamil.

Seorang wanita hamil yang mendapat vitamin B dalam jumlah mumpuni, lebih kecil kemungkinannya memiliki bayi dengan cacat lahir. Itulah sebabnya ibu hamil harus tetap mengonsumsi multivitamin.

Meski demikian, cara lain yang bisa dilakukan untuk mengupayakan bayi lahir dengan sehat adalah mengisi tubuh dengan asupan asam folat. Lembaga Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan agar Anda mengonsumsi biji-bijian guna memenuhi kebutuhan asam folat.

Berbagai mitos di atas mungkin juga pernah Anda dengar. Kini, Anda telah mengetahui kebenarannya. Jadi, jangan asal konsumsi suplemen vitamin, ya. Lebih baik, penuhi kebutuhan vitamin harian Anda dengan mengonsumsi berbagai makanan sehat dan bergizi imbang. Terapkan pula gaya hidup sehat seperti rutin berolahraga serta menghindari diri konsumsi rokok dan alkohol. Namun jika Anda merasa memerlukan asupan vitamin, konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

Sunday, 10 February 2019

Makanan Pahit Ini Berguna untuk Kesehatan Apa Saja Manfaatnya?


Siapa yang suka makanan dengan cita rasa pahit? Biasanya, makanan pahit cenderung tidak menjadi menu favorit banyak orang. Daripada memakan makanan yang pahit, orang-orang cenderung memilih makanan manis dan asin gurih. Padahal, makanan pahit sangat banyak manfaatnya bagi tubuh, salah satunya adalah sebagai antioksidan.

Hal itu dikatakan dr. Dyan Mega Inderwati. "Di antara seluruh jenis sayuran yang ada, ternyata sayuran yang memiliki cita rasa pahit terbukti memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi. Contohnya brokoli, kale, dan brussel sprout," ujar dr. Dyan Mega.

Manfaat yang terkandung di dalamnya sangat berperan dalam menjaga kesehatan. Selain itu, diyakini pula makanan pahit turut membantu menurunkan risiko kanker pada tubuh seseorang.

Makanan pahit juga mengandung berbagai bahan kimia nabati yang memiliki manfaat kesehatan yang signifikan. Beberapa di antaranya adalah menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, kesehatan usus, mata, dan organ hati yang lebih baik.

Berikut deretan makanan pahit yang baik bagi kesehatan, dilansir dari Healthline :

1. Pare

Pare adalah salah satu makanan terpahit di dunia. Berbentuk seperti timun, berwarna hijau dan bergelombang, pare biasanya dihidangkan dalam bentuk tumis atau dibuat sebagai siomay. Pare mengandung phytochemical seperti triterpenoid, polifenol dan flavonoid yang telah terbukti memperlambat pertumbuhan berbagai jenis kanker. Sayuran ini juga digunakan dalam pengobatan alami untuk membantu menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes.

Sebuah studi yang dilakukan selama empat minggu menemukan bahwa mengonsumsi 2.000 mg bubuk pare kering setiap hari secara signifikan menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes. Di sisi lain, seperti kebanyakan makanan pahit, pare kaya akan antioksidan yang membantu mencegah kerusakan sel yang disebabkan oleh radikal bebas dan dapat mengurangi risiko penyakit jantung.

2. Teh hijau

Teh hijau adalah minuman populer yang dikonsumsi di seluruh dunia. Teh ini memiliki rasa pahit alami karena kandungan katekin dan polifenolnya.

Katekin yang paling terkenal ini disebut epigallocatechin gallateatau EGCG. Uji tabung dan penelitian pada hewan menunjukkan bahwa EGCG dapat memperlambat pertumbuhan sel kanker, meski tidak jelas apakah itu memiliki efek yang sama pada manusia.

Selain itu, teh hijau juga mengandung beragam polifenol yang bertindak sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Secara bersama-sama, senyawa ini mengurangi kerusakan akibat radikal bebas dan mengurangi peradangan, yang dapat mengurangi risiko penyakit jantung.

Faktanya, minum satu cangkir teh hijau setiap hari dikaitkan dengan risiko serangan jantung yang hampir 20 persen lebih rendah. Pilih teh hijau daripada varietas teh hitam untuk dosis antioksidan maksimum.

3. Kopi


Kopi adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia dan sumber antioksidan utama. Seperti kebanyakan makanan pahit, kopi dikemas dengan polifenol yang memberikan rasa unik.

Salah satu polifenol yang paling melimpah dalam kopi adalah asam klorogenat. Asam klorogenat mengandung antioksidan kuat yang bertanggung jawab atas banyak manfaat kesehatan, termasuk mengurangi kerusakan oksidatif serta risiko penyakit jantung dan diabetes yang lebih rendah.

Studi menunjukkan, minum 3-4 cangkir kopi per hari dapat mengurangi risiko kematian, kanker, dan penyakit jantung – masing-masing  sebesar 17 persen, 15 persen, dan 18 persen – bila dibandingkan dengan tidak minum kopi sama sekali.

Dalam analisis terpisah, ditemukan bahwa setiap cangkir kopi yang dikonsumsi per hari mengurangi risiko diabetes tipe 2 sebesar 7 persen.  Sementara itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kopi berkafein dapat membantu mencegah gangguan neurologis, termasuk penyakit Alzheimer dan Parkinson. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mengapa itu bisa terjadi.

4. Kakao

Bubuk kakao dibuat dari biji tanaman kakao dan rasanya sangat pahit saat tanpa pemanis. Kakao sering digunakan untuk campuran makanan penutup, dan biasanya dicampurkan ke dalam vanilla dan gula untuk membuat cokelat.

Penelitian menemukan, orang yang makan cokelat setidaknya lima kali per minggu memiliki risiko penyakit jantung 56 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak makan cokelat sama sekali.

Ini kemungkinan karena polifenol dan antioksidan yang ditemukan dalam kakao. Dua kandungan itu dapat memperlebar pembuluh darah dan mengurangi peradangan, serta melindungi jantung Anda.

5. Buah cranberry

Buah ini mengandung jenis polifenol yang dikenal sebagai proanthocyanidins tipe-A. Polifenol itu dapat mencegah bakteri menempel pada permukaan, seperti jaringan tubuh Anda.

Buah yang memiliki rasa asam dengan sedikit pahit ini bermanfaat untuk mengurangi kerusakan gigi karena bakteri, menurunkan risiko  infeksi Helicobacter pylori di perut, bahkan mencegah infeksi Escherichia coli di usus dan saluran kemih Anda.

Sebuah studi menemukan bahwa minum sekitar 2 cangkir (500 ml) jus cranberry setiap hari membantu menghilangkan infeksi perut akibat bakteri Helicobacter pylori tiga kali lebih efektif dibanding pengobatan lain.

Studi lain menunjukkan bahwa dosis harian pil cranberry yang mengandung setidaknya 36 mg proanthocyanidins dapat secara signifikan mengurangi frekuensi infeksi saluran kemih (ISK), terutama pada wanita.

Selain sifat antibakteri, cranberry sangat kaya akan antioksidan. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa konsumsi jus cranberry secara teratur dikaitkan dengan kesehatan jantung yang lebih baik, termasuk berkurangnya peradangan, gula darah, tekanan darah, dan kadar trigliserida di dalam tubuh.

Itu adalah deretan makanan pahit yang memiliki manfaat bagi kesehatan. Bagi Anda yang tidak suka makanan pahit, mulai sekarang boleh lebih sering memakannya ya. Akan tetapi, jangan berlebihan, konsumsilah dalam jumlah wajar.